ADSENSE1

Bareskrim Tolak Laporan LBH Street Lawyer terhadap Pendet4 Saifudd1n

 

sumber foto : unikpost

Laporan LBH Street Lawyer terhadap pendeta Saifuddin Ibrahim ditolak oleh Bareskrim Mabes Polri. Pihaknya mengklaim petugas Bareskrim tidak menerbitkan Laporan Polisi lantaran tak ada fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap apa yang dikatakan Saifuddin.

"Kita mau buat Laporan Polisi penistaan agama oleh Pendeta Saifuddin Ibrahim tapi ditolak, malah diarahkan agar membuat Pengaduan Masyarakat (DUMAS). Itu pun tadi Dumas sudah tutup karena sudah lewat jam tiga sore," kata anggota LBH Street Lawyer, Sumadi Atmadja kepada Populis.id di Mabes Polri, Jakarta pada Kamis (17/03/2022).

Ia menegaskan, laporan atas dugaan penistaan agama karena Saifuddin dengan terang-terangan menyebut Al-Quran berisi ayat yang mengajarkan radikalisme. Ini jelas tuduhan yang sangat menyakiti umat Islam.

"Ini sangat menyakiti karena dalam Al-Quran tidak ada yang mengajarkan radikalisme, maka sangat wajar seluruh lapisan masyarakat mengecam. Dari MUI sampai Menkopolhukam Mahfudz MD, semua mendesak adanya proses hukum terhadap Saifuddin," tuturnya.

Namun, ia sangat menyayangkan saat laporannya ditolak hanya karena tidak ada fatwa dari MUI. Menurutnya, tidak ada aturan yang mengharuskan penodaan agama ada fatwa MUI terlebih dahulu.

"Ini cukup aneh dan jadi tanda tanya besar, karena seharusnya tidak perlu ada fatwa MUI. Karena akan ribet nanti kalau setiap kasus penodaan agama harus ada fatwa atau sikap keagamaan dari MUI," terangnya.

Meski demikian, ia tetap berupaya untuk bertemu dengan pimpinan MUI membicarakan persoalan Pendeta Saifuddin ini. Mengingat, yang bersangkutan bukan kali ini saja mengobok-obok ajaran Islam sehingga terjadi kegaduhan.

Menko Polhukam Mahfud MD menilai pernyataan Pendeta Saifuddin Ibrahim yang meminta Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menghapus 300 ayat Al-Qur'an tergolong perbuatan menistakan agama.

Menanggapi pernyataan Mahfud MD itu, Saifuddin Ibrahim mengeklaim pernyataannya itu tidak bermaksud untuk menista agama. Namun, dia tetap memohon kepada Gus Yaqut menghapus ratusan ayat Al-Qur'an yang dianggap menimbulkan kekacauan, kebencian, dan ancaman bagi orang Kristen.

"Menistakan agama apa? Itu, kan, permohonan saya kepada Menteri Agama. Ngapain saya menistakan agama," kata Pendeta Saifuddin dilansir dari jpnn pada Kamis (17/3/2022).

Saifuddin mengeklaim telah mempelajari sejarah perjalanan Islam dan Kristen dengan susah. Pria yang mengaku kerabat M Kace itu khawatir ratusan ayat dalam kitab suci agama Islam tersebut mengancam nyawa orang Kristen di Indonesia.

Pasalnya, tuding dia, ratusan ayat itu memerintahkan untuk membunuh. Atas dasar itu, Saifuddin menilai 300 ayat Al-Qur'an tersebut harus dihapus.

"Ayat-ayatnya harus dihapuskan," kata Saifuddin Ibrahim.

Sebelumnya, dalam sebuah tayangan video, Saifuddin Ibrahim meminta Menag Yaqut menghapus 300 ayat di dalam Al-Qur'an yang dicetak di Indonesia.

"Tiga ratus ayat yang menjadi pemicu hidup intoleran, pemicu hidup radikal, dan membenci orang lain karena beda agama, itu di-skip atau direvisi atau dihapuskan dari Al-Qur’an Indonesia. Ini sangat berbahaya sekali," kata Saifuddin dalam sebuah video.


LBH Street Lawyer berencana menyambangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) pasca di Tolak

terhadap Pendeta Saifuddin Ibrahim ditolak Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Namun demikian, ia tetap merasa aneh atas penolakan tersebut.

"Harusnya bisa diterima tanpa ada fatwa, karena aneh jika setiap laporan harus ada fatwa. Tapi kita nanti coba komunikasikan dengan MUI tentang kasus ini, apakah akan dibuatkan fatwa atau tidak," katanya kepada Populis.id pada Kamis (17/03/2022).
Ia berharap, MUI membuat sikap keagamaan tentang tindakan Saifuddin. Pasalnya apa yang diucapkan Pendeta Saifuddin sungguh membuat gaduh dan bisa menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.

"Sangat berpotensi membuat masyarakat terbelah dan bisa memantik konflik. Maka kita harap MUI juga secara kelembagaan memberikan sikap keagamaan seperti kasus Ahok," jelasnya.

Akan tetapi menurutnya, penegak hukum tidak perlu menunggu dari fatwa MUI jika ingin menindak suatu perkara penistaan agama. Karena hal itu tidak ada dasar hukumnya karena MUI hanya sebagai pedoman.

"Sikap keagamaan MUI hanya sebagai penguat saja. Ada atau tidak Polisi tetap bisa memproses dugaan penistaan agama," tegas Sumadi.

Diketahui, LBH Street Lawyer hari ini mendampingi seorang bernama Irvan Noviandana untuk melaporkan Saifuddin Ibrahim ke Bareskrim Mabes Polri. Namun, laporan ini ditolak karena tidak ada fatwa MUI atas ucapan Saifuddin.


Penulis : Taufik Idharudin via populis.id

Belum ada Komentar untuk "Bareskrim Tolak Laporan LBH Street Lawyer terhadap Pendet4 Saifudd1n"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

ADSENSE2

MGID Gadget Pintar

ADSENE3