Adsense ATAS

Pesan Rosulullah SAW untuk para Pengusaha... Pahami dan Hindari Hal-hal ini


sumber foto : dream

Rasulullah SAW menjadi panutan umat islam dalam menjalankan segala sendi kehidupan. Semua kebaikan Rasulullah SAW sudah sepatutnya kita contoh. Salah satunya adalah bagaimana Rasulullah SAW menjadi seorang pedagang atau pengusaha sejak usia dini. Sejak kecil, nabi Muhammad SAW telah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Sang ayah, Abdullah, meninggal saat Rasulullah SAW masih dalam kandungan. Dan sang ibu, Aminah,meninggal saat usia Rasulullah SAW masih 6 tahun. Masa kecilnya penuh dengan cobaan. Sehingga jiwa mandirinya tumbuh lebih cepat


daripada anak-anak pada umumnya. Jiwa kemandirian, entrepreneur, serta kepemimpinannya terasah saat dirinya menginjak usia 9 tahun. Saat itu, Rasulullah SAW membantu sang paman, Abu Thalib, untuk menggembala kambing. Karena terbiasa diajak sang paman bekerja sejak kecil, membuat Nabi Muhammad SAW mulai akrab dengan dunia perdagangan. Saat usia 12 tahun, dirinya bersama sang paman melakukan perjalanan ke negeri Syam,atau saat ini yang dikenal dengan Suriah.

Disana beliau banyak belajar tentang ilmu perdagangan serta bagaimana melayani pembeli dengan baik.Dengan bekal yang ia miliki sejak kecil itu, Nabi Muhammad mulai berani berdagang sendiri saat menginjak usia 15 tahun. Dagangan pertamanya adalah pakaian. Dalam berdagang,Nabi Muhammad SAW selalu mengedepankan kebaikan. Pribadinya yang sopan, jujur, amanah, dan menghormati konsumennya membuat dirinya mendapat gelar al Amin. Reputasi Nabi Muhammad SAW dalam berdagang membawanya menjadi terkenal.Bahkan sampai ke negeri seberang seperti Iraq, Syam, Yordania, dan Yaman. Hal ini memudahkannya mendapatkan investor.Salah satunya adalah Khadijah binti Khuwailid,yang kelak menjadi istrinya. Khadijah RA mempercayakan bisnisnya ini pada Nabi Muhammad SAW, terutama untuk memutar modal.


Kepercayaan ini tentu tak disia-siakan oleh Nabi Muhammad SAW.Dari kisah masa muda Nabi Muhammad SAW yang sudah bergelut dengan dunia perdagangan, dapat kita simpulkan bahwa menjadi pengusaha,berdagang, ataupun berbisnis adalah sebuah pekerjaan yang baik. Ada yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad, Ath Thabrani, dan Al Hakim).

Ya, meskipun sudah jelas bahwa melakukan jual beli adalah hal yang baik, namun tetap harus memperhatikan hal halal dan haramnya. Salah satunya adalah tidak melibatkan riba di dalamnya. Seperti arti dari surah al-Baqarah ayat 275 yang artinya, “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Pesan Rosulullah SAW kepada Pengusaha

berangkat dari hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim:


عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ رِفَاعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُ خَرَجَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُصَلَّى فَرَأَى النَّاسَ يَتَبَايَعُونَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ فَاسْتَجَابُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعُوا أَعْنَاقَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ إِلَيْهِ فَقَالَ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنْ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ. رواه الترميذى و ابن حبان و الحاكم

Dari Ism’il bin Ubaid bin Rifaah dari ayahnya dari kakeknya bahwa ia pernah keluar bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam menuju tempat shalat, lalu beliau melihat orang-orang melakukan transaksi jual beli, beliau pun bersabda: ‘Wahai para pedagang.’ Lalu mereka menyambut seruan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengangkat leher dan pandangan mereka kepada beliau, lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang berdosa kecuali yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, serta jujur.” (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)
At–Tujjar
At-tujjar adalah pedagang, dalam kategori sekarang adalah pengusaha, pebisnis, atau juga seorang marketing atau salesman. Sebagaimana Rasulullah awalnya juga sebagai marketing produknya Sayyidah Khadijah radliayallahuanha, sehingga beliau adalah seorang penjual atau marketing, dan berarti beliau adalah seorang pedagang. Dalam kategori ini berarti beliau sekligus adalah seorang pengusaha.

Dalam agama kita muamalah bertujuan mencapai kebahagiaan di dunia, sedangkan ibadah bertujuan untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Dalam hal muamalah yang perlu mendapat perhatian utama adalah persoalan jual beli atau al bai’. Dalam hal ini ada penjual dan pembeli, sekalipun seorang pembeli kemudian bisa juga menjadi penjual atas barang yang telah dibelinya.
Hati-Hati Wahai Penjual
Sebagaimana dalam hadits di atas, Rasulullah mewanti-wanti kepada para p0edagang, karena mereka akan dibangkitkan sebagai pendosa, kecuali orang-orang yang bertakwa. Peringatan ini sangat tegas dan gamblang bagi para pebisnis terutama pedagang atau penjual.

Tentu makna takwa sebagaimana hadits di atas adalah dalam dimensi tetap menjaga ketaatan kepada Allah secara spiritual dan juga dalam bermuamalah. Secera spiritual berarti selalu memperhatikan yang difardhukan serta yang disunnahkan, termasuk di dalamnya adalah berdzikir pagi dan sore dan dalam setiap kesempatan.

رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (an-Nur 37)


Secara muamalah berarti dalam hal berdagang haruslah memenuhi unsur yaitu ada penjual dan pembeli yang sama-sama dewasa dan sehat akalnya, ada ijab kabul, dan saling rela. Di samping itu di dalamnya tidak ada manipulasi atau penipuan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٖ مِّنكُمۡۚ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (an-Nisa: 29)

Maka berhati-hatilah sebagai pedagang atau pengusaha, karena ancaman (warning) Rasulullah sangat serius. Jadi jangan hanya berbangga diri sebagai pengusaha yang sukses, akan tetapi harus diperhatikan pula bagaimana cara mendapatkan keuntungan dari perniagaannya.

Istikamah di Jalan-Nya
Hal ini bukan semata dari pedagang kecil-kecilan seperti penjual makanan untuk anak misal cireng, pentol, dan lain sebagainya, di mana bahan yang digunakan haruslah tidak membahayakan atau yang dapat menimbulkan penyakit, termasuk proses produksinya. Untuk apalah bangga dengan meraup untung akan tetapi merugikan pihak lain khususnya kepada para pembeli.

Bagi pengusaha besar yang kelihatan mentereng juga memiliki ketentuan yang sama. Jika dalam pola mencari keuntungannya dengan menghalalkan segala cara, apalagi dengan melakukan praktik suap sana suap sini, maka hal itu sangat terlarang dalam agama ini. Agama ini mengajarkan bahwa yang menyuap dan yang di suap sama-sama di neraka.

Risiko yang harus ditanggung di akhirat sungguh sangat berat bagi seorang pedagang atau pengusaha yang demikian. Apalagi jika hal itu berupa perusahaan yang nantinya akan diwariskan kepada anak cucu kelak, haruskah menjalankan bisnis dengan di dalamnya ada unsur–baik berupa alat atau bahan-bahan–keharaman? Na’udzubillah min syarri dzalik.
Maka seyogyanya sebagai seorang mukmin, apapun profesi kita haruslah tetap berusaha istikamah menempuh jalanNya. Termasuk jika memiliki sebuah usaha dalam hal berkaitan dengan perdagangan. Ada hal-hal yang harus dijaga sedemikian rupa sehingga tidak terjebak pada hal-hal yang diharamkan dan atau ada kezaliman di dalamnya.

Dengan demikian sungguh berat sebagai seorang pengusaha, karena banyak sekali amanah yang ada di dalamnya demi kepentingan kemaslahatan umat. Maka sebagai seorang pengusaha muslim tentulah tidak terjebak pada kosep bisnis modern yang acapkali jauh meninggalkan konsep islam. Apalagi terjebak pada konsep ekonomi liberal dimana yang kuat memangsa yang lemah.
Semoga pengusaha-pengusaha Muslim saat ini bukan sekadar menyimbolkan diri sebagai ‘pengusaha Muslim’, akan tetapi di dalam semua roda bisnisnya dari hulu sampai hilir benar-benar terpaut dengan konsep Islam. Amin (*)

Penulis : Mohammad Nurfatoni via pwmu.co

Belum ada Komentar untuk "Pesan Rosulullah SAW untuk para Pengusaha... Pahami dan Hindari Hal-hal ini"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Mg iD Wijet Pintar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel