Kerja Jadi IBADAH... Inilah Syarat-Syarat agar Pekerjaan Dunia kita Bernilai Ibadah di sisi Allah SWT

 

sumber foto : Islampos

Tujuan hidup kita di dunia ini sebagai muslim telah digariskan oleh Allah Rabbul ‘Izzah yang menciptakan kita. Allah ta’ala berfirman: 56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.s. al-Dzariyat: 56) ya mengabdikan diri kita hanya kepada dan untuk Allah semata.

Tentu saja pengabdian itu mencakup seluruh dimensi kehidupan kita; keyakinan, ucapan, dan tingkah laku kita baik kepada Allah (hablun minallah), diri sendiri, juga kepada masyarakat sekitar (hablun minannas). Pengabdian muslim juga meliputi seluruh dimensi waktu yang dijalaninya, mulai dari masa taklif-akil baligh, remaja, dewasa, tua, hingga wafat menghadap Sang Khaliq.

Sejak manusia hamba Allah belum terlahir ke alam dunia ini, manusia bahkan telah mengakui Allah sebagai Tuhan sejati dan satu-satunya yang mencipta (Tauhid Rububiyah).

Allah berfirman: 172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Q.s. al-A’raf: 172).

Ya kita tidak boleh lengah dan lalai sedikitpun dari tugas pengabdian dan penghambaan diri kita kepada Allah ta’ala. Dalam setiap detik, menit, jam dan hari yang kita lalui dalam kehidupan kita yang singkat ini harus bernafaskan spirit ibadah kepada Allah ta’ala.

Bukankah Allah sendiri yang telah mengambil sumpah janji agar kita senantiasa beribadah kepada-Nya dan tidak menuruti kehendak, arahan dan orientasi yang dihembuskan syaitan musuh terbesar manusia? 60. Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, 61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (Q.s. Yaasin: 60-61).

Bahkan sebagai muslim, kita berikrar untuk senantiasa beribadah kepada Allah tak kurang 17 kali dalam 17 rakaat shalat fardu yang lima waktu. Ayat kunci dalam surah al-Fatihah yang wajib dibaca dalam shalat adalah 5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. (Q.s. al-Fatihah: 5)

Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Sudahkah kita konsisten mengamalkan ikrar yang kita ucapkan sendiri? Apakah kita telah benar-benar patuh dan tunduk menyembah Allah secara murni tanpa sekutu, ataukah kita justru menyembah dan menuhankan materi, dunia, pekerjaan, dan bisnis kita?


Bersyukur adalah Kunci Bahagia
Apakah pekerjaan dunia dan bisnis kita untuk Allah dan sesuai dengan aturan-Nya, ataukah bisnis is bisnis tidak peduli kepada aturan Allah dan syariat-Nya? Sudah benarkah kita hanya memohon pertolongan kepada Allah dalam menyelesaikan suatu urusan, ataukah kita masih rajin mendatangi dan bertanya kepada dukun dan peramal nasib? Jujurkah kita kepada Allah dalam ikrar yang diucapkan 17 kali sehari itu?

Jika ibadah diartikan sempit terbatas pada shalat 5 waktu (diasumsikan max 1 jam dengan rawatib dan wirid setelah shalat), maka lebih kurang 23 jam dalam 1 hari hidup kita tidak bernilai ibadah.

Jika ibadah diartikan sempit hanya membayar zakat setahun sekali bagi yang kaya dan melebihi nishab harta, maka betapa banyak umat muslim yang tak sanggup berzakat. Jika ibadah dibatasi dalam puasa Ramadhan, maka 11 bulan selain Ramadhan tidak bernilai ibadah lagi buat kita.

Dan jika ibadah disempitkan menjadi Haji ke Baitullah di Mekah sekali seumur hidup, maka betapa banyak umat Islam yang tak bisa beribadah karena tak cukup harta untuk berangkat dan menyiapkan bekal selama di tanah suci.

Oleh sebab itulah, demi memelihara hak dan kewajiban kita dalam menghadirkan Allah ta’ala dengan segenap perangkat nilai tatanan ilahiah dalam tiap jejak kehidupan kita, maka mau tidak mau maka dalam setiap aktifitas dan profesi hidup kita, selalu menghadirkan spirit ibadah kepada Allah. bagaimana caranya? Yaitu dengan mentaati dan mematuhi setiap aturan syariat Allah dalam segala bentuk pekerjaan dunia kita.

Ada setidaknya lima (5) syarat agar pekerjaan dunia kita bernilai ibadah di sisi Allah ta’ala.


(1) Pertama, hendaknya kita senantiasa menghadirkan niat yang ikhlas karena Allah dalam setiap amal kerja dan darma bakti kita dalam hidup. Karena setiap amal yang baik akan diterima Allah jika ada niat. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu diterima bergantung kepada niatnya” (Hr. Bukhari dan Muslim). Selain itu, niat karena Allah berfungsi melahirkan dorongan positif bagi kita untuk selalu menghadirkan Allah dan syariat-Nya dan menerapkannya dalam setiap aktifitas dan profesi kita. Sebaliknya, jika niat kita sudah salah, ia akan melahirkan dorongan negatif untuk melanggar syariat Allah dalam setiap pekerjaan kita.

(2) Kedua, sebagai muslim, kita wajib memilih jenis profesi/pekerjaan yang halal dan sesuai criteria syariat Islam. Hanya dengan itulah, maka pekerjaan kita bisa bernilai ibadah di sisi Allah ta’ala. Pekerjaan atau profesi yang haram atau dalam lingkaran yang haram, meski niatnya mulia untuk menafkahi keluarga dan membahagiakan istri tercinta atau anak yang disayangi, maka itu adalah maksiat kepada Allah dan akan mendatangkan murka-Nya. Rasul saw bersabda, “Sungguh tidak masuk syurga daging yang tumbuh dari harta haram, maka neraka lebih berhak untuk memanggangnya hingga hancur” (Hr.Tirmidzi, al-Hakim dan al-Thabrani).

Seorang muslim dilarang untuk memilih dan menjalankan profesi yang diharamkan oleh Allah swt. Criteria dasarnya adalah sabda Rasulullah saw, “Jika Allah telah mengharamkan sesuatu, maka ia juga telah mengharamkan harga/upahnya untuk (tidak) dimakan” (Hr. Abu Daud dan Ahmad).

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah mengharamkan zina, mencuri, meminum khamr, berjudi, riba dalam muamalat, dsb. Juga di dalam sunnah, Rasul telah melarang tiga jenis upah dari “menjual anjing, prostitusi, dan perdukunan”.


Bekerja adalah Ibadah
Bahkan, bukan hanya pekerjaan langsung yang terkait dengan perkara haram yang dilarang oleh Islam, tetapi mencakup semua perangkat dan system pendukung dari perkara haram. Maka apa saja perbuatan atau pekerjaan yang menjadi supporting system dari perjudian, minuman keras, riba, mencuri, perdukunan, peramalan dan lain-lain, maka pekerjaan itu menjadi haram. Perhatikanlah sabda Rasul saw, “Sungguh Allah melaknat pemakan riba, pemberi pinjaman riba, pencatatnya, dan 2 saksinya”, “Sungguh Allah melaknat peminum khamr, pembuatnya, penjualnya, pengecernya, pengantarnya, pencatatnya dan saksi-saksinya”. Mengerikan bukan? Maka itu, hindarilah semua jenis pekerjaan, apa pun itu, jika ia telah menjadi bagian system pendukung perbuatan yang Allah haramkan.

(3) Ketiga, syarat agar pekerjaan kita bernilai ibadah adalah jika kita melakukannya dengan penuh kesungguhan, ketelitian dan keahlian sesuai bidang kita. Itu semua disimpulkan oleh Rasulullah dengan konsep ITQAN dalam bekerja. Nabi saw bersabda, “Sungguh Allah sangat mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia lakukan dengan ITQAN”. Jika niat yang benar sudah dipasang, pekerjaan pun halal, akan tetapi kita lakukan dengan serampangan, setengah-setengah dan tidak professional, sehingga menghasilkan output kerja yang jauh dari kualitas yang diharapkan, maka pekerjaan itu sia-sia dan tidak bernilai ibadah di sisi Allah ta’ala.

(4) Keempat, agar pekerjaan kita bernilai ibadah, maka pada saat kita melakukannya kita harus menjauhkan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. maksiat disini, bukan hanya yang sifatnya personal, tetapi juga maksiat public. Pekerjaan yang halal dengan niat yang baik, lalu dikerjakan dengan professional dan ITQAN, tetapi berlaku curang dan zalim, suka memanipulasi, mengurangi takaran/timbangan, korupsi dan praktek suap untuk meloloskan proyek dan perizinan, memberikan dan menerima gratifikasi, maka semua itu sia-sia dan tak akan bernilai ibadah di sisi Allah ta’ala.

Rasulullah saw bersabda, “Sungguh Allah telah mengharamkan untuk kalian berbuat zalim, maka janganlah kalian saling menzalimi”. Beliau juga menegaskan, “Hadiah-hadiah yang diterima para pegawai adalah ghulul (penggelapan harta)”. “Sungguh Allah tak menerima shalat tanpa bersuci, dan sedekah dari harta ghulul (korupsi)”, demikian sabda Nabi.

Di dalam Al-Qur’an, Allah bahkan mengecam perilaku merugikan orang lain dengan mengurangi timbangan dalam jual beli. Bahkan surah itu dinamakan al-Muthaffifin. Allah berfirman, “kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar,” (Q.s. al-Muthaffifin: 1-5)

(5) Kelima, tidak sempurna nilai ibadah dalam pekerjaan kita, jika kita tidak memenuhi syarat yang kelima. Yaitu senantiasa berdzikir kepada Allah (menghadirkan-Nya dalam setiap amal kita), mengerjakan shalat lima waktu, dan menunaikan zakat. Tidak berguna suatu pekerjaan, sebesar apapun penghasilan yang diraih, dan tak akan bernilai ibadah kepada Allah, jika kita tidak menghadirkan Allah dalam setiap kerja kita (dzikrullah), lalai terhadap kewajiban shalat lima waktu, apalagi sampai tidak mengeluarkan zakat profesi dari penghasilan kita selama 1 tahun penuh.


Kunci Rizki adalah Tawakkal
Allah berfirman, Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Q.s. an-Nur: 36-37)

Itulah kesempurnaan ibadah setiap muslim dalam seluruh tingkatan pekerjaannya. Agar ridha Allah ta’ala kita raih, dan kita menjadi hamba-hamba-Nya yang jujur mengamalkan ikrar dan sumpah kita di hadapan Allah ta’ala. Wallahu a’lam bil-shawab.

oleh : Fahmi Salim, MA via percikaniman.org

Belum ada Komentar untuk "Kerja Jadi IBADAH... Inilah Syarat-Syarat agar Pekerjaan Dunia kita Bernilai Ibadah di sisi Allah SWT"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel