Sunah Nabi SAW : Tahnik Bayi saat Lahir... Begini Tata cara dan Hukumnya Tahnik Bayi ketika sudah dilahirkan

 

sumber foto : Islampos

Kali ini Kita akan membahas mengenai hukum tahnik dan cara melakukannya. Apa itu Tahnik ? Tahnik adalah memberikan kunyahan kurma dan menempelnya di langit-langit mulut bayi yang baru lahir. Tahnik juga merupakan asupan pertama untuk bayi. Tujuan dari mentahnik bayi adalah agar si bayi terlatih untuk mengunyah makanan dan menguatkan dirinya supaya bisa segera makan.

Tahnik merupakan suatu teknik melumurkan kurma ke langit-langit mulut bayi. Kurma yang dilumurkan adalah kurma yang sudah dikunyah hingga lembut terlebih dulu oleh orang salih atau orang tuanya. Kurma yang lembut digosokan di langit-langit mulut sehingga bayi bisa menjilati sebagian kurma yang ada di mulutnya.

hukum tahnik pada bayi
Tujuan tahnik tidak lain adalah untuk merangsang bayi agar kelak ia cepat bisa makan makanan. Tahnik adalah salah satu sunnah Rasulullah. Pada zaman nabi, jika para sahabat atau kaum muslim baru memiliki anak, mereka langsung mendatangi Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk mentahnik anak mereka. Dalilnya ada di hadits Abu Musa, bahwa ia berkata,

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.

“(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.” (HR. Muslim, no: 2145)

Dianjurkan untuk mentahnik bayi yang baru lahir. Tahnik bayi bisa dilakukan oleh orang salih. Setelah ditahnik kemudian disunnahkan untuk mendoakan si bayi lalu memberinya nama dengan nama-nama yang baik.

Apakah Tahnik Harus Pakai Kurma ?
Dari hadits di atas, Rasul mentahnik bayi dengan kurma. Jenis kurma yang biasa digunakan untuk mentahnik adalah kurma kering (tamer). Jika tidak ada, maka bisa diganti dengan kurma basah (ruthob). Namun, jika tidak ditemukan kurma, maka bisa diganti dengan sesuatu yang sehat dan manis seperti madu.

Menurut pendapat ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah, tahnik harus menggunakan kurma, dan jika tidak ada bisa diganti dengan sesuatu yang manis. Sedangkan menurut pendapat Imam Nawawi Rahimahullah tahnik tetap disunnahkan dengan kurma, namun jika tidak maka tetap dihitung sebagai tahnik. Meski begitu, mentahnik dengan kurma tetap yang paling utama.

Cara Melakukan Tahnik Pada Bayi
Bagaimana cara melakukan tahnik pada bayi dengan benar dan sesuai sunnah ? Berikut ini panduannya.

  • Disunnahkan untuk mentahnik bayi yang baru lahir dengan kurma. Dengan kata lain, tahnik harus dilakukan di hari pertama bayi lahir.
  • Jenis kurma yang digunakan untuk tahnik adalah kurma kering. Namun jika tidak ada bisa diganti dengan kurma basah
  • Jika tidak mendapati kurma, maka bisa diganti dengan sesuatu yang manis, sehat, dan aman untuk bayi, misalnya madu
  • Cuci, gosok gigi, dan bersihkan tangan kamu sebelum mentahnik bayi, demi menjaga kebersihan dan higienis kurma yang akan diproses untuk tahnik
  • Cara mentahnik dengan benar adalah dengan menguyah sedikit bagian kurma hingga cair dan mudah ditelan oleh bayi
  • Buka mulut bayi lalu gosokan kunyahan kurma tadi di langit-langit mulut bayi
  • Biarkan bayi mengunyah cairan kurma lunak yang ditempel di mulutnya
  • Disunnahkan untuk mentahnik bayi kepada orang soleh sehingga setelah ditahnik bisa diminta doanya yang penuh keberkahan.

Hukum Tahnik Bayi dengan Orang Soleh
Tahnik boleh dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Maksudnya, bayi laki-laki boleh ditahnik oleh seorang perempuan, begitupun sebaliknya. Namun jika melihat sunnah di atas, tahnik dilakukan oleh orang soleh. Yang jadi pertanyaan apakah tahnik harus dilakukan oleh orang soleh ? Bolehkah orang tua mentahnik anaknya sendiri ?

hukum tahnik
Dalam hadits dan syariat, tahnik memang dianjurkan untuk dilakukan oleh orang soleh. Namun ternyata, pendapat ini sebenarnya kurang tepat. Sebenarnya tahnik bisa dilakukan oleh siapa saja, terutama orang tua dari si bayi. Alasannya adalah sebagai berikut:

Kita tidak bisa menyamakan kesolehan seseorang dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Sulit menentukan kesolehan seseorang dari sudut pandang manusia. Kesolehan letaknya ada di hati. Sedangkan manusia tidak bisa mengetahui isi hati seseorang
Kita tidak tahu orang lain soleh atau tidak karena kita tidak tahu akhir hidup orang tersebut
Para sahabat tidak mentahnik anaknya selain kepada Nabi Muhammad. Jika iya, pasti mereka sudah melakukannya terlebih dulu

Orang yang kita anggap soleh bisa jadi semakin riya akibat dipandang soleh oleh orang lain. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan sifat takjub pada orang lain karena dianggap soleh.

Selain dari alasan di atas, masalah kebersihan dan higienitas jadi permasalahan tersendiri jika ingin mentahnik bayi kepada orang lain. Maka dari itu, hukum tahnik sebenarnya sah dilakukan oleh orang tua si bayi. Supaya lebih aman pastikan mulut dan tangan orang tua sudah bersih sebelum melakukan tahnik.

sumber : islamkita.co

Belum ada Komentar untuk "Sunah Nabi SAW : Tahnik Bayi saat Lahir... Begini Tata cara dan Hukumnya Tahnik Bayi ketika sudah dilahirkan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel