Jawaban dari Permasalahan Mu.. Kenapa kamu selalu Banyak Masalah, Ternyata ini sebabnya

 

sumber foto : Klikdokter

Jika Anda merasa sering ditimpa masalah, bahkan belum selesai satu masalah sudah datang masalah baru, itu sebenarnya membuktikan bahwa Anda, dan juga kita semua, benar-benar sedang berada di dunia. Kita bukan sedang berada di dalam surga yang penuh kenikmatan. Kita juga bukan sedang berada di alam mimpi yang tidak nyata. Hidup di dunia memang begitu: penuh masalah, cobaan, ujian.

Karena itu, dahulu ada filsuf terkemuka yang mengatakan bahwa hidup ini melelahkan, dan tidur adalah salah satu cara untuk membebaskan diri dari kelelahan dan kesulitan hidup. Tidur adalah sebuah kenikmatan. Lebih enak dari tidur, menurutnya, adalah mati, karena dengan kematian kita terbebas dari berbagai kesulitan hidup. Dan lebih enak dari itu semua, masih menurutnya, adalah tidak terlahir ke dunia ini sama sekali, tidak tercipta sama sekali. Ini tentu saja pandangan yang ekstrem dan terlalu pesimistis terhadap kehidupan dunia. Kenyataannya kita sudah terlahir dan hidup di dunia. Pandangan pesimistis seperti itu bisa mendorong orang untuk melakukan bunuh diri.

Bahwa dunia ini penuh dengan cobaan dapat kita baca di dalam salah satu ayat Al-Qur’an yang maknanya kurang lebih demikian: Sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, rasa lapar, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS al-Baqarah [2]: 155). Anak-anak remaja punya masalah dengan dirinya, dengan orangtuanya, dengan teman pergaulannya. Suami-istri punya masalah. Orang yang bekerja punya masalah dengan lingkungan kerjanya, orang yang menganggur pun punya masalah. Masing-masing pribadi juga punya masalah sendiri-sendiri. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Sa‘di al-Syirazi, tokoh sufi abad ketujuh Hijriah, “Tidak ada manusia di dunia yang tidak mengalami penderitaan. Andaipun ada, dia pasti bukan manusia.”

Jangankan kita yang manusia biasa, para nabi dan rasul –yang tidak lain adalah orang-orang dekat Allah dan manusia-manusia pilihan Allah—pun tidak luput dari masalah, cobaan, dan ujian. Bacalah dan renungkan kisah Nabi Yusuf a.s. yang sejak kecil sampai dewasa mengalami banyak sekali masalah. Baca dan renungkan juga kisah Nabi Muhammad saw. yang sejak lahir sudah ditinggal mati ayahnya, tidak lama kemudian ditinggal ibunya. Apalagi ketika beliau berdakwah yang menghadapi pelecehan dan penghinaan kaum Quraisy Mekah, kaumnya sendiri, suku bangsanya sendiri. Lalu kita ini siapa dibandingkan dengan beliau-beliau para nabi dan rasul itu, kok sampai “protes” dan “menyalahkan” Allah?

Agak disayangkan Saudara tidak menyebutkan apa saja masalah-masalah yang menimpa Saudara itu. Jangan-jangan sebenarnya dia bukan masalah tetapi Anda anggap sebagai masalah. Sebab, terkadang sesuatu yang kita anggap masalah itu akan hilang sendirinya tanpa harus kita pusing memikirkan solusinya. Sakit hati sehabis putus cinta, misalnya, itu akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi kalau sakit hati itu dirasakan terus, dipikirkan terus setiap malam, tidak akan pernah selesai. Selamanya kita akan merasakan sakit. Solusinya adalah dengan membiarkan masalah putus cinta itu. Toh sudah terjadi. Mau diapakan pun sudah terjadi.

Salah satu pangkal masalah biasanya adalah rasa memiliki yang berlebihan. Kita merasa memiliki pekerjaan kita, misalnya. Begitu pekerjaan itu hilang (entah karena ada PHK atau sebab lain), kita bingung dan stres. Kita menganggap ini sebagai masalah. Kita merasa kehilangan sesuatu yang milik kita. Padahal, sejatinya itu bukan milik kita, tapi milik Allah. Kapan Allah hendak mengambil pekerjaan itu dari kita, maka pekerjaan itu pun berpindah dari tangan kita. Atau, kita merasa memiliki pasangan kita (calon pasangan, atau sudah resmi pasangan suami-istri). Begitu terjadi putus hubungan atau perceraian, kita lalu stres dan merasa sesuatu yang kita miliki telah hilang. Padahal, sejatinya kekasih yang kita anggap milik kita itu bukanlah milik kita, tetapi milik Allah. Karena itulah Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita untuk mengucapkan dan meresapi makna innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn (sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita semua kembali).

Agar tidak merasa kehilangan dan kemudian berpotensi menjadi masalah buat kita, jangan pernah merasa memiliki apa yang ada pada kita. Pekerjaan, istri, suami, kesehatan, harta benda, anak, dan sebagainya adalah titipan Allah pada kita. Kapan Allah berkehendak mengambilnya dari kita, semua itu akan pindah dan pergi dari kita. Jika kita menyadari benar bahwa semua itu milik Allah, kita tidak akan merasakan masalah jika nikmat-nikmat itu diambil oleh Sang Pemiliknya.

Poin terakhir di atas itu berkaitan dengan soal iman, yakni iman kepada ketetapan (takdir) Allah, yang baik maupun yang buruk. Kita harus meyakini bahwa apa pun yang terjadi pada diri kita, bahkan pada alam semesta, tidak lepas dari pengetahuan dan ketetapan Allah Swt.

Terkait dengan ibadah (salat) yang sudah rajin Anda lakukan tetapi kok tidak mengurangi masalah, bahkan masalah masih saja bertambah, kita perlu memandang salat dari sudut pandang yang lebih luas dari itu. Salat itu artinya mengabdi kepada Allah (iyyâka na‘budu) sekaligus juga berserah diri. Kalau sudah berserah diri, tidak perlu marah kepada diri sendiri jika terjadi masalah.

Sekarang coba perhatikan, apakah dulu ketika Anda tidak rajin salat, Anda tidak punya masalah? Apakah orang-orang yang tidak salat, tidak puasa, tidak baca Al-Qur’an, itu terbebas dari masalah? Tidak! Mereka yang tidak salat pun tetap punya masalah. Jadi, masalah Anda bukan karena sudah rajin salat, tapi pasti ada faktor penyebab lain. Cobalah renungkan dan cari faktor penyebab itu.

Demikian, wallahu a’lam.

Penulis : Muhammad Arifin via nikmatislam.com

Belum ada Komentar untuk "Jawaban dari Permasalahan Mu.. Kenapa kamu selalu Banyak Masalah, Ternyata ini sebabnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel