Hati-hati.. Jangan anda salahkan Takdir.... Pahami ini dulu Inilah Konsep Takdir Menurut Al-Quran

 

sumber foto : darunajah

Masalah takdir merupakan salah satu keyakinan atau itikad terpenting, yang banyak mendapatkan perhatian ulama, baik dulu maupun sekarang. Berbagai kesimpulan yang mereka tarik dari konsep takdir di dalam al-Quran di antaranya bahwa Islam itu mengajarkan falsafah “fatalisme”, artinya menyerah kepada apa yang menimpa manusia, menyerah kepada keadaan yang dialami tanpa berusaha untuk mengelak dari bahaya dan keadaan, dan tidak dapat mengelak dari nasib buruk karena semua usaha dan ikhtiar tidak ada gunanya.

Ada yang menyimpulkan bahwa ajaran takdir itu membuat orang jadi malas bekerja, karena setelah mendalami ajaran takdir orang menjadi bersifat “menanti keuntungan” saja menunggu angin baik, yang paling berbahaya adalah yang berhubungan dengan perbuatan manusia. Setelah falsafah takdir dan ikhtiar dipahami secara salah, akibatnya mereka mempunyai perbuatan yang semakin menuruti hawa nafsunya, berbuat dosa dan maksiat, karena berpendirian bahwa perbuatan mereka itu itu sudah ditakdirkan Tuhan.

Dalam hal ini, makna “Qadha dan Qadar yang akrab diartikan takdir itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasalnya, karena dalam faham takdir semuanya diketahui, semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Misalnya api membakar itu, menurut Jabariyah adalah kehendak Tuhan, sedangkan dalam iptek yang membakar api itu sendiri, maka kalau kehendak Tuhan yang dipegang berarti tidak ada peraturan.”

Memang ilmu pengetahuan manusia telah dapat dibanggakan, kemajuan ilmu kedokteran, fisika, teknik dan ilmu-ilmu lainnya yang pada akhir-akhir ini memang benarbenar mengagumkan. Tetapi di samping itu, terdengar pula keluh kesah dan jeritan dari berbagai sudut dunia yang menandakan hati yang tidak puas dengan keadaan yang ada sekarang ini. Usaha tokoh-tokoh dunia untuk mendamaikan negara-negara yang saling bertentangan pun tidak berhasil, bahkan dirinya sendiri terlibat di dalamnya.

Dengan keadaan demikian, seharusnya manusia insaf bahwa manusia adalah lemah, dan manusia harus mampu menyadari bahwa ada kekuasaan lebih dari luar dirinya. Kalau manusia memang mengatakan dirinya “berkuasa” atas segalanya, semua bisa beres berkat iptek yang ada sekarang dan semuanya bisa diselesaikan oleh manusia. Sebagian orang menjadikan takdir sebagai dalih untuk berbuat maksiat dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya, mereka melemparkan kesalahan kepada takdir dan pelanggaran mereka terhadap syariat agama.

Tentu saja dari sini ada yang menolak takdir sehingga mengatakan la qadr (tidak ada takdir). Manusia bebas melakukan apa saja, bukankah Allah telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau dia tidak memiliki kebebasan itu, dan bukankah Allah sendiri menegaskan dalam al-Qur’an, “Maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (QS. Al-Kahfi/18:29). Masing-masing bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri, atau apakah Allah telah menciptakan apa yang kita lakukan “Dan kamu tidak menghendaki kecuali bila dikehendaki Allah” (QS. Al-Insan/76: 30).

Demikian banyak perdebatan yang tidak kunjung habis di antara para Mutakallimin (teolog), masing-masing menjadikan al-Qur’an sebagai pegangannya. Corak pemikiran masing-masing aliran bersifat reaktif, sehingga dapat melahirkan kesimpulan pemikiran teologis yang dinamis dan rasional sekalipun tetap konsisten pada arahan dan bimbingan nilai-nilai Qur’ani yang menjadi objek kajian.

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinilainya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang. (QS. Al-Hadid/57: 23).

Artinya manusia itu lemah (tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu al-Qur’an dan hadis untuk ditaati.

Jadi itulah konsep takdir di dalam al-Quran yang harus sama-sama kita ketahui.

sumber : Salman Akif Faylasuf via harakah.id

Belum ada Komentar untuk "Hati-hati.. Jangan anda salahkan Takdir.... Pahami ini dulu Inilah Konsep Takdir Menurut Al-Quran"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel